Fenomena unik kembali muncul dari dunia gaming. Seorang biksu asal Tiongkok bernama Huayan mendadak viral setelah mengklaim bahwa bermain Counter-Strike justru membantunya menjadi “Buddhist yang lebih baik.”
Pernyataan tersebut langsung memicu diskusi luas di komunitas gaming maupun publik umum, terutama karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai spiritual yang identik dengan kehidupan seorang biksu.
Mengaku Veteran Counter-Strike Sejak 2000
Dalam wawancaranya bersama Dasheng Studio, Huayan mengungkap bahwa dirinya telah memainkan Counter-Strike sejak tahun 2000. Ia bahkan mengklaim pernah mencapai rank tinggi Legendary Master Eagle (LEM), salah satu tier kompetitif yang cukup prestisius.
Tak hanya itu, ia juga menyebut telah menghabiskan sekitar 6.000 dolar AS untuk membangun PC gaming miliknya. Bahkan, ia memamerkan item skin langka berupa Karambit Gamma Doppler Emerald yang nilainya diperkirakan mencapai 9.000 dolar AS.Gaming Disebut Selaras dengan Ajaran Buddha
Yang paling menyita perhatian tentu adalah pandangan Huayan terkait hubungan antara game dan ajaran Buddha.
Menurutnya, mekanik “membunuh” dalam game tidak bertentangan dengan prinsip spiritual, karena hanya bagian dari sistem permainan.
“Membunuh dalam game adalah metode yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan, seperti dalam catur,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa bermain game justru membantu melatih:
- Konsentrasi
- Kerja sama tim
- Empati terhadap orang lain
- Pemahaman tentang ketidakkekalan (impermanence)
Bagi Huayan, pengalaman tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam praktik Buddhisme.
Tuai Skeptisisme di Media Sosial
Meski terdengar menarik, klaim tersebut tidak sepenuhnya diterima publik. Di media sosial Tiongkok, banyak netizen mempertanyakan keaslian sosok Huayan.
Sebagian pengguna bahkan menyebut bahwa ia bukan figur baru dan pernah muncul dalam berbagai konten sketsa atau hiburan sebelumnya. Hal ini memunculkan dugaan bahwa kisah ini bisa saja bagian dari konten viral yang dikemas secara dramatis.
Antara Spiritualitas dan Gaming
Terlepas dari kontroversinya, kisah ini kembali membuka diskusi menarik tentang hubungan antara dunia digital dan nilai-nilai spiritual.
Di satu sisi, gaming sering dikaitkan dengan hiburan kompetitif dan kekerasan virtual. Namun di sisi lain, pengalaman bermain juga bisa melatih fokus, strategi, hingga kerja sama, hal-hal yang dalam konteks tertentu bisa selaras dengan praktik pengembangan diri.
Kini pertanyaannya bukan hanya soal benar atau tidaknya klaim Huayan, tetapi juga bagaimana masyarakat memandang peran game dalam kehidupan modern.
Apakah gaming bisa menjadi sarana refleksi dan pengembangan diri, atau tetap sekadar hiburan semata?

