Valve Sempat Punya Headset VR Baru 4 Tahun Lalu, Tapi Desainnya Terlalu Besar dan Berat

Raihan

September 14, 2026

Valve ternyata sudah memiliki prototipe headset VR generasi berikutnya sejak tiga hingga empat tahun lalu. Namun, perangkat tersebut akhirnya tidak langsung diproduksi karena desain awalnya dianggap terlalu besar dan berat.

Informasi ini datang dari Joy Lyons dan Jeremy Selan, dua orang dari Valve yang terlibat dalam pengembangan Steam Frame. Menurut Selan, Valve sebenarnya sudah memiliki headset yang siap diuji beberapa tahun sebelum Steam Frame diperkenalkan.

Masalahnya, setelah perangkat tersebut dipakai langsung, tim Valve merasa desainnya belum memenuhi standar yang mereka inginkan untuk generasi baru.

“Kami sudah memiliki headset itu tiga atau empat tahun lalu, dan perangkatnya besar serta berat.”

Selan menjelaskan bahwa prototipe tersebut lebih menyerupai Valve Index, sehingga tim akhirnya memutuskan untuk kembali ke meja gambar dan mengembangkan desain yang benar-benar baru.

Valve Ingin Steam Frame Lebih Ringan dan Nyaman

Keputusan untuk mengulang desain membuat proses pengembangan Steam Frame berjalan lebih panjang.

Menurut Selan, para engineer Valve harus berkali-kali mengutak-atik desain untuk mendapatkan bentuk yang lebih kecil, ringan, dan nyaman digunakan. Mereka juga harus mencari keseimbangan antara berbagai komponen, termasuk daya, bobot baterai, sistem pendingin, dan temperatur perangkat.

Valve awalnya memperkirakan Steam Frame bisa dirilis pada awal 2026. Namun, masalah ketersediaan komponen, kondisi ekonomi, dan berbagai kendala supply membuat jadwal tersebut akhirnya mundur.

Selan mengatakan bahwa waktu peluncuran sekarang merupakan titik tercepat ketika Valve merasa perangkat tersebut sudah cukup matang untuk benar-benar dirilis.

Software Steam Deck Ikut Membantu Steam Frame

Bukan hanya desain hardware yang membuat Steam Frame bisa terwujud. Pengalaman Valve mengembangkan perangkat portable seperti Steam Deck juga memberikan fondasi penting dari sisi software.

Joy Lyons menjelaskan bahwa Valve telah mempelajari banyak hal dari Steam Deck, termasuk pengembangan SteamOS, emulasi, serta Proton yang memungkinkan game Windows berjalan di sistem operasi berbasis Linux.

Teknologi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam Steam Frame.

Headset ini menggunakan arsitektur ARM, tetapi Valve memanfaatkan FEX untuk menerjemahkan game x86 sehingga dapat berjalan pada perangkat ARM.

Valve juga mengembangkan Lepton, sebuah teknologi yang memungkinkan game berbasis Android berjalan melalui SteamOS. Hal ini membuka akses Steam Frame terhadap berbagai konten VR yang sebelumnya tersedia untuk perangkat seperti Meta Quest.

Dengan begitu, Steam Frame tidak hanya bergantung pada kemampuan streaming dari PC.

Bisa Streaming Game PC dan Bermain Secara Standalone

Salah satu konsep utama Steam Frame adalah menggabungkan dua jenis pengalaman VR.

Sebagai perangkat PC VR, Steam Frame dapat melakukan streaming game dari PC secara wireless. Namun, perangkat ini juga bisa digunakan secara standalone dan menjalankan game dari library Steam melalui sistem penerjemahan yang dikembangkan Valve.

Kemampuan tersebut membuat Steam Frame cukup berbeda dari headset VR yang hanya berfungsi sebagai layar tambahan untuk PC.

Ditambah dukungan Lepton, pengguna juga bisa mengakses game Android dan berbagai konten VR yang dibuat untuk platform berbasis Android.

Bagi Valve sendiri, kemampuan tersebut bahkan menjadi pengalaman baru selama proses pengembangan.

Lyons mengatakan dirinya pernah mencoba puluhan game untuk melihat apakah semuanya bisa berjalan dengan baik. Dalam satu periode dua minggu, ia bahkan mencoba sekitar 89 game.

Menurutnya, ada momen ketika sebuah game berhasil dijalankan dan ia akhirnya berhenti memikirkan perangkat tersebut sebagai seorang engineer.

Steam Frame Akhirnya Jadi Perangkat yang Dipakai Sendiri oleh Tim

Pengalaman internal Valve juga menjadi salah satu alasan Steam Frame akhirnya dianggap siap dirilis.

Selan mengatakan bahwa para developer Valve pada dasarnya menjadi tester terbaik untuk perangkat mereka sendiri. Pada masa awal pengembangan, ia masih lebih sering membawa pulang Steam Deck meskipun memiliki akses ke prototipe rahasia headset VR.

Namun, kemudian terjadi perubahan.

Ketika versi Steam Frame yang lebih matang mulai digunakan, Selan justru memilih membawa headset tersebut dibandingkan Steam Deck. Menurutnya, pada titik itulah ia merasa bahwa perangkat tersebut benar-benar layak menjadi produk yang dirilis ke publik.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya menghasilkan Steam Frame yang sekarang diperkenalkan Valve sebagai headset VR yang bisa digunakan untuk PC gaming, streaming wireless, hingga bermain secara standalone.

Meski pengembangannya memakan waktu bertahun-tahun, Valve tampaknya lebih memilih menunggu sampai desain dan ekosistem software-nya benar-benar sesuai dengan visi mereka daripada merilis headset yang masih terasa seperti versi lebih besar dari Valve Index.

Leave a Comment

Optimized by Optimole