Riot Tanggapi Klaim Pemain Valorant yang Kena Ban Gara-Gara Beli CPU Bekas

Raihan

October 6, 2026

Seorang pemain Valorant asal Jerman mengaku tidak bisa memainkan game tersebut setelah membeli CPU bekas, karena komponen yang baru dibelinya disebut sudah memiliki riwayat hardware ban dari pemilik sebelumnya.

Kasus ini menjadi perhatian karena pemain tersebut mengklaim bahwa CPU Ryzen 7 5800X3D yang dibelinya pada 21 September ternyata telah masuk daftar hitam sistem anti-cheat Vanguard. Menurut pengakuannya, ban tersebut berkaitan dengan pemilik CPU sebelumnya yang diduga pernah melakukan kecurangan.

Namun, Riot Games membantah sejumlah bagian dari cerita tersebut dan memberikan penjelasan mengenai cara kerja hardware ban Vanguard.

CPU Bekas Disebut Sudah Terkena Hardware Ban

Kisah ini pertama kali dibagikan oleh pengguna Reddit After-Cartoonist-196 melalui subreddit PCBaumeister. Ia mengaku Valorant langsung menendangnya ketika game dijalankan menggunakan Ryzen 7 5800X3D bekas yang baru dibeli.

Padahal, menurut pemain tersebut, Valorant masih dapat dimainkan secara normal ketika menggunakan prosesor lamanya.

Ia kemudian menghubungi Riot Support dan mengklaim mendapat informasi bahwa nomor seri CPU tersebut telah masuk daftar hitam Vanguard setelah sebuah hardware ban pada 12 Agustus. Ban tersebut diduga diberikan kepada pemilik sebelumnya karena melakukan cheating.

Yang membuat kasus ini semakin rumit, pemain tersebut juga mengklaim bahwa motherboard dan perangkat penyimpanannya ikut ditandai sehingga dirinya tidak dapat begitu saja mengganti komponen tertentu untuk kembali bermain.

Riot Sebut Ceritanya Tidak Sepenuhnya Masuk Akal

Philipp Koskinas, Director of Anti-Cheat Riot, kemudian memberikan tanggapan melalui X. Ia mengatakan tidak menemukan tiket support yang sesuai dengan detail kasus tersebut dan menyebut cerita yang beredar sebagai sesuatu yang cukup tidak mungkin.

Koskinas menjelaskan bahwa hardware ban Valorant memiliki durasi maksimal sekitar empat bulan. Selain itu, hukuman tersebut hanya berlaku untuk game tempat kecurangan terjadi dan pemain yang terkena ban seharusnya mendapat informasi mengenai durasi hukuman dari pihak support.

Ia juga secara tegas membantah klaim bahwa Vanguard akan otomatis memasukkan seluruh komponen PC ke daftar hitam ketika menemukan satu hardware yang terkena ban.

Dengan kata lain, Riot tidak membenarkan anggapan bahwa membeli satu komponen bekas yang bermasalah akan membuat seluruh PC pembelinya ikut terkena hardware ban.

Pembeli CPU Bekas Tetap Bisa Dirugikan

Meski penjelasan Riot memberikan gambaran berbeda, kasus tersebut tetap menimbulkan pertanyaan bagi pemain yang membeli hardware bekas.

Jika klaim mengenai CPU tersebut benar dan hardware ban memang masih aktif, pembeli yang tidak melakukan cheating tetap bisa terkena dampaknya hingga masa hukuman berakhir. Dalam kasus ini, ban yang tercatat pada 12 Agustus secara teori baru akan berakhir sekitar pertengahan Desember jika menggunakan durasi empat bulan.

Masalah lainnya adalah pembeli tidak memiliki cara sederhana untuk mengetahui apakah sebuah CPU bekas pernah dikaitkan dengan hukuman Vanguard sebelum melakukan transaksi.

Kasus ini juga bukan pertama kalinya sistem anti-cheat Vanguard menimbulkan kekhawatiran mengenai hubungan antara software anti-cheat dan hardware PC. Sebelumnya, Riot sempat mendapat kritik setelah membicarakan kemampuan Vanguard yang disebut dapat membuat hardware tidak bisa digunakan dalam konteks tertentu.

Untuk saat ini, Riot belum memberikan konfirmasi bahwa CPU dalam kasus tersebut memang terkena hardware ban seperti yang diklaim pemilik barunya. Karena itu, kasus ini masih menyisakan perbedaan antara pengalaman pemain, klaim Riot Support yang disebutkan olehnya, dan penjelasan dari pihak Riot mengenai cara kerja Vanguard.

Leave a Comment

Optimized by Optimole