Game FPS indie berjudul Hood Warfare 2 tengah ramai diperbincangkan di media sosial karena gameplay-nya yang mengingatkan banyak pemain pada seri Call of Duty. Meski dibanderol sekitar US$5 di Steam, game besutan Trapstar Games ini berhasil menarik perhatian berkat fitur killstreak, sistem kustomisasi kelas, dan mode permainan yang familier bagi penggemar FPS.
Dirilis pada 8 Oktober 2026, Hood Warfare 2 membawa pemain ke medan pertempuran yang terinspirasi dari Chicago. Dua tim yang saling bersaing akan bertarung dalam berbagai mode deathmatch, dengan sejumlah mekanisme yang terasa mirip dengan Call of Duty: Modern Warfare.
Punya Killstreak dan Mode Permainan Mirip Call of Duty
Salah satu hal yang membuat Hood Warfare 2 menarik perhatian adalah kemiripan antarmukanya dengan seri Modern Warfare. Game ini juga menghadirkan fitur create-a-class untuk mengatur perlengkapan karakter, serta sistem killstreak yang memberikan keuntungan setelah pemain berhasil mengumpulkan eliminasi.
Ada sejumlah mode permainan yang ditawarkan, masing-masing dengan tujuan berbeda. Beberapa di antaranya adalah Turf War yang menyerupai Domination, GangBang untuk Team Deathmatch, dan Chaos yang menghadirkan pertarungan Free-for-all.
Selain itu, pemain juga bisa mencoba Hit a Lick yang mengusung konsep Capture the Flag, Destroy the Block dengan format Search and Destroy, serta Chain Snatch yang mirip dengan Kill Confirmed.
Kombinasi fitur tersebut membuat game ini terasa familier bagi pemain yang terbiasa dengan FPS kompetitif, meskipun dikemas melalui tema dan lingkungan yang berbeda.
Viral Setelah Klip Pemain Rainbow Six Siege Ditonton Jutaan Kali
Popularitas Hood Warfare 2 meningkat setelah sejumlah klip gameplay beredar di media sosial. Salah satu video yang paling banyak menarik perhatian berasal dari pemain profesional Rainbow Six Siege, Merc, yang telah ditonton lebih dari lima juta kali.
Dalam klip tersebut, Merc berhasil mengumpulkan killstreak hingga membuka kemampuan bernama Snitch. Fitur ini langsung mengingatkan pemain pada UAV di Call of Duty, yang membantu mengungkap posisi lawan.
Merc juga menyoroti salah satu killstreak lain yang menghadirkan aksi berkendara sambil menembaki lawan dari jendela mobil, lengkap dengan musik yang diputar selama aksi berlangsung.
Kemunculan fitur-fitur tersebut memancing beragam reaksi dari pengguna media sosial. Banyak yang menganggap kemiripan dengan Call of Duty sebagai sesuatu yang menghibur, terutama karena beberapa mekanismenya ditampilkan dengan pendekatan yang tidak biasa.
Pemain Bandingkan dengan Call of Duty dan GTA
Selain membicarakan killstreak, sejumlah pemain juga memuji aspek gameplay Hood Warfare 2. Beberapa pengguna bahkan menilai mekanisme sniping dan pergerakan karakter terasa lebih baik dibandingkan Call of Duty.
Ada pula yang mengaku lebih tertarik memainkan game tersebut daripada menunggu Modern Warfare 4. Meski demikian, komentar semacam ini masih sebatas opini pengguna media sosial dan belum mencerminkan penilaian keseluruhan pemain.
Game ini juga memancing komentar yang menghubungkannya dengan seri Grand Theft Auto. Salah satu pengguna berharap terdapat peta yang terinspirasi dari Grove Street dan taman Ballas, dua nama yang mengingatkan penggemar pada lingkungan di GTA: San Andreas.
Sementara itu, pengguna lain menyarankan agar game tersebut dibawa ke PS5. Namun, belum ada informasi mengenai rencana perilisan Hood Warfare 2 di luar PC.
Ulasan Steam Cukup Positif, tetapi Kontennya Dipertanyakan
Berdasarkan halaman Steam-nya, Hood Warfare 2 dikembangkan oleh Trapstar Games dan telah memperoleh status ulasan Mostly Positive. Pencapaian ini menunjukkan bahwa game tersebut mendapatkan sambutan yang cukup baik dari sebagian pemain.
Meski begitu, respons positif tidak berarti game ini bebas dari kritik. Sejumlah pemain menilai Hood Warfare 2 memang menyenangkan untuk dimainkan dalam waktu singkat, tetapi belum menawarkan cukup banyak konten untuk mempertahankan ketertarikan mereka dalam jangka panjang.
Dengan harga sekitar US$5, Hood Warfare 2 kini menjadi salah satu game FPS indie yang menarik perhatian berkat kemiripannya dengan Call of Duty. Namun, apakah game ini mampu mempertahankan popularitasnya atau hanya menjadi sensasi sesaat di media sosial masih perlu dilihat dari perkembangan pemain dan kontennya ke depan.

