Dunia hiburan Jepang diguncang kabar mengejutkan. Yasutomo Ihara, mantan stuntman yang pernah memerankan karakter Ranger Hijau dalam franchise Power Rangers, resmi ditangkap polisi setelah terbukti terlibat dalam aksi perampokan berseri yang terjadi di berbagai wilayah Jepang.
Alih-alih menjadi simbol kepahlawanan seperti peran yang pernah ia mainkan, Ihara kini harus berhadapan dengan hukum setelah aparat mengaitkannya dengan 43 kasus pembobolan rumah. Total kerugian dari aksi tersebut ditaksir mencapai 8,2 juta yen, atau sekitar Rp878 juta.
Gunakan Skill Akting untuk Kejahatan
Yang membuat kasus ini semakin mengejutkan adalah cara Ihara melakukan aksinya. Berdasarkan laporan kepolisian, ia memanfaatkan kemampuan fisik, akrobatik, dan kesadaran taktis yang dipelajarinya selama berkarier sebagai stuntman.
Teknik seperti:
- Bergerak senyap
- Mengatur waktu masuk rumah
- Mengontrol fisik saat memanjat bangunan
- Menghindari deteksi
yang dulu dilatih untuk kebutuhan adegan aksi dan koreografi, justru digunakan untuk melakukan kejahatan di dunia nyata. Karena kemampuannya memanjat gedung dengan lincah, media lokal bahkan menjulukinya “Spider-Man Thief”.
Dari Layar TV ke Dunia Nyata, Garis yang Terlalu Jauh
Penyelidik menyebut Ihara menjalankan aksinya dengan efisien dan rapi, memanfaatkan pengalaman profesionalnya untuk menghindari perhatian warga dan aparat. Ironisnya, disiplin dan keterampilan yang seharusnya digunakan untuk dunia hiburan justru berubah menjadi alat kriminal.
Kasus ini langsung menyita perhatian publik, terutama para penggemar Power Rangers yang tumbuh besar dengan sosok Ranger Hijau sebagai simbol keberanian dan keadilan. Banyak yang mengaku sulit mempercayai bahwa figur yang pernah dikaitkan dengan heroisme kini menjadi tersangka kejahatan serius.
Kejutan Ironi bagi Dunia Hiburan
Penangkapan Yasutomo Ihara menjadi pukulan bagi industri hiburan dan komunitas penggemar. Sosok yang dulu membawa nostalgia masa kecil kini menjadi pengingat pahit bahwa keterampilan hanyalah alat dan arah penggunaannya yang menentukan dampaknya.
Pihak kepolisian Jepang menyatakan penyelidikan masih berlanjut untuk memastikan tidak ada kasus lain yang terlewat. Sementara itu, Ihara harus menghadapi proses hukum atas perbuatannya, dengan ancaman hukuman berat menanti di depan mata.
Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa batas antara fiksi dan realitas bisa menjadi sangat tipis dan ketika dilanggar, konsekuensinya jauh lebih kelam dari sekadar cerita di layar kaca.

