PC atau Console di 2026? Pilihannya Tak Lagi Hitam Putih

Raihan

January 4, 2026

Beberapa tahun lalu, memilih antara PC atau console terasa sederhana. PC untuk performa dan fleksibilitas, console untuk kenyamanan dan harga. Namun memasuki 2026, garis pemisah itu mulai kabur.

Harga komponen melonjak, tren industri berubah, dan kebutuhan gamer kini jauh lebih beragam. Bagi gamer pemula maupun mereka yang ingin upgrade perangkat, satu hal langsung terasa: budget semakin cepat habis. Dari sinilah perdebatan lama kembali muncul, tapi dengan konteks yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Console Masih Ramah di Depan, Tapi Sampai Kapan?

Jika berbicara soal pembelian awal, console masih terlihat unggul. PlayStation 5 dan Xbox Series X hadir sebagai paket siap main. Controller sudah termasuk, sistem sudah optimal, dan gamer tinggal menyalakan perangkat lalu bermain.

Berbeda dengan PC gaming. Di 2026, membangun PC entry-level saja bisa terasa berat. Salah satu penyebab utamanya adalah kenaikan harga RAM sejak akhir 2025. Permintaan besar dari industri AI dan data center membuat harga DDR5 melonjak tajam, bahkan hampir dua kali lipat dalam waktu singkat.

Padahal, RAM bukan komponen opsional. 16 GB kini menjadi standar minimum, sementara 32 GB mulai dianggap ideal untuk game modern dan multitasking. Ketika harga RAM naik, biaya rakit PC otomatis ikut terdongkrak.

Di titik ini, perbandingan PC gaming vs console terasa timpang bagi gamer dengan dana terbatas. Console menawarkan kepastian biaya. PC masih menarik, tetapi investasi awalnya jauh lebih menantang.

Tak heran jika banyak gamer mulai melirik kembali console sebagai opsi paling masuk akal untuk bermain tanpa ribet di 2026.

PC Unggul di Performa, Console Menang di Konsistensi

Soal performa mentah, PC tetap berada di puncak. Frame rate tinggi, resolusi 4K, hingga pengaturan grafis ekstrem masih menjadi keunggulan yang sulit disaingi.

Namun keunggulan ini datang dengan harga. Kenaikan RAM dan GPU membuat build PC optimal terasa semakin mahal. Game modern kini menuntut memori besar agar stabil, dan 16 GB sering kali sudah terasa pas-pasan.

Console mengambil pendekatan berbeda. Developer mengoptimalkan game untuk satu target hardware yang jelas. Hasilnya, performa lebih konsisten tanpa perlu tweaking. Frame rate mungkin tidak selalu setinggi PC kelas atas, tetapi pengalaman bermainnya stabil dari awal hingga akhir.

Dalam praktiknya, banyak game AAA di 2025–2026 berjalan setara dengan PC kelas menengah saat dimainkan di console. Bagi gamer kasual, perbedaan visual ini sering kali tidak terlalu signifikan, terutama di layar TV ruang tamu.

PC tetap pilihan utama untuk mereka yang mengejar performa maksimal. Namun dalam kondisi pasar saat ini, console menawarkan keseimbangan yang lebih rasional antara kualitas dan biaya.

Fleksibilitas PC Masih Ada, Tapi Tak Lagi Murah

Salah satu alasan klasik memilih PC adalah fleksibilitas. Komponen bisa di-upgrade sedikit demi sedikit. Dengan strategi yang tepat, satu PC bisa bertahan bertahun-tahun.

Namun realitas 2026 mengubah segalanya. Harga RAM yang melonjak membuat upgrade sederhana pun terasa mahal. Bahkan pengguna PC lama kini harus berpikir dua kali sebelum menambah kapasitas memori.

Fleksibilitas memang masih ada, tetapi tidak lagi terasa ringan di dompet.

Console justru unggul dalam kepastian. Pengguna tahu apa yang mereka beli dan berapa lama perangkat itu akan relevan. Tidak ada kebutuhan upgrade di tengah jalan, dan biaya tetap bisa diprediksi.

Di titik ini, pertanyaan PC atau console bukan lagi soal “mana yang lebih kuat”, tetapi seberapa besar biaya yang sanggup dikeluarkan dalam beberapa tahun ke depan.

Portabilitas dan Fungsi Tambahan Jadi Faktor Baru

Portabilitas kini menjadi pertimbangan nyata. Perangkat seperti Nintendo Switch membuktikan bahwa kemudahan bermain di mana saja punya nilai besar.

PC memang unggul secara fungsi masih bisa dipakai kerja, editing, hingga streaming. Namun untuk mobilitas setara console, pilihannya jatuh ke laptop gaming atau handheld PC. Masalahnya, perangkat ini juga terdampak lonjakan harga RAM dan komponen.

Laptop gaming yang layak untuk game modern kini terasa semakin mahal. Sementara console, meski lebih terbatas fungsinya, tetap stabil sebagai perangkat hiburan.

Jadi, PC atau Console di 2026?

Jawabannya tidak sesederhana dulu.
PC masih unggul untuk performa, fleksibilitas, dan kebutuhan multitasking.
Console menawarkan kestabilan harga, kemudahan, dan pengalaman bermain yang konsisten.

Di tengah kenaikan harga komponen dan perubahan industri, pilihan terbaik kini sangat bergantung pada anggaran dan gaya bermain masing-masing.

Leave a Comment

Optimized by Optimole