Dunia esports Asia Tenggara diguncang skandal serius yang terjadi di ajang SEA Games 2025 Bangkok. Dua pemain profesional Arena of Valor (AoV) asal Thailand, Wasarin “Tokyogurl” Naraphat dan Chaiyo “Cheerio”, resmi ditangkap pihak kepolisian setelah terbukti melakukan kecurangan dalam pertandingan resmi tim nasional wanita Thailand.
Insiden ini langsung menjadi sorotan besar karena terjadi di panggung olahraga multi-cabang paling prestisius di Asia Tenggara. Lebih dari sekadar pelanggaran aturan turnamen, kasus ini kini berkembang menjadi perkara hukum serius.
Awal Terbongkarnya Dugaan Kecurangan
Kasus ini pertama kali mencuat usai pertandingan Thailand vs Vietnam pada 15 Desember 2025 yang berakhir dengan kekalahan telak 0–3. Tim wasit dan penyelenggara menemukan kejanggalan berupa login ganda pada satu akun kompetisi secara bersamaan, sesuatu yang mustahil terjadi dalam sistem resmi turnamen.
Temuan tersebut memicu investigasi mendalam terhadap integritas pertandingan. Hasil penyelidikan menunjukkan adanya penggunaan akses tidak sah dan dugaan manipulasi permainan dari jarak jauh menggunakan perangkat lunak pihak ketiga.
Perjokian Akun dan Peran Discord
Investigasi mengungkap bahwa Tokyogurl diduga tidak benar-benar bermain di panggung pertandingan. Ia disebut membagikan kredensial akun kompetisinya kepada Cheerio, yang kemudian memainkan pertandingan atas namanya dari lokasi berbeda.
Komunikasi dan koordinasi antara keduanya dilakukan melalui Discord, yang digunakan sebagai sarana pengaturan strategi dan eksekusi permainan secara real-time. Praktik perjokian ini jelas melanggar regulasi esports internasional sekaligus merusak prinsip sportivitas.
Penangkapan Resmi oleh Kepolisian Thailand

Pada 13 Februari 2026, pihak Crime Suppression Division Thailand melakukan penggerebekan di wilayah Nonthaburi dan Nakhon Pathom. Dalam operasi tersebut, Tokyogurl dan Cheerio resmi diamankan.
Polisi menyita sejumlah perangkat elektronik, termasuk ponsel dan alat komunikasi yang digunakan dalam praktik kecurangan. Berdasarkan laporan awal, kedua tersangka mengakui perbuatan mereka, termasuk penggunaan akses ilegal dalam pertandingan resmi SEA Games.
Sanksi Esports: Ban Seumur Hidup hingga Pemecatan
Dampak dari kasus ini langsung terasa di ranah kompetitif. Garena selaku publisher Arena of Valor menjatuhkan lifetime ban kepada Tokyogurl dari seluruh turnamen resmi sejak Desember 2025.
Tak hanya itu, Talon Esports juga langsung memutus kontrak Tokyogurl setelah bukti kecurangan dikonfirmasi. Tim nasional wanita Thailand pun memilih mengundurkan diri dari kompetisi demi menjaga martabat negara.
Skandal ini menjadi pukulan telak bagi reputasi Thailand sebagai salah satu kekuatan utama RoV di Asia Tenggara.
Terancam Hukuman Penjara
Kasus ini tidak berhenti di ranah esports. Aparat menegaskan bahwa tindakan Tokyogurl dan Cheerio melanggar Computer Crime Act Thailand, karena melibatkan akses ilegal ke sistem digital kompetisi.
Jika terbukti bersalah di pengadilan, keduanya terancam hukuman penjara hingga dua tahun, serta denda dalam jumlah besar. Sidang perdana dijadwalkan berlangsung pada 17 Maret 2026 di Pengadilan Distrik Pathumwan.
Pelajaran Pahit untuk Dunia Esports
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh atlet esports profesional. Integritas dan kejujuran bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama karier di level internasional.
Di era esports yang semakin profesional dan diawasi ketat, satu kesalahan fatal bisa berujung pada akhir karier, proses hukum, hingga rusaknya nama bangsa. Skandal SEA Games 2025 ini pun berpotensi menjadi salah satu kasus paling kelam dalam sejarah esports Asia Tenggara.

