Game dengan Loot Box Akan Berlabel PEGI 16 Mulai 2026, Bagaimana Dampaknya bagi Sistem Rating di Indonesia?

Raihan

March 14, 2026

Lembaga klasifikasi game Eropa, Pan European Game Information, mengumumkan perubahan besar pada sistem rating mereka. Mulai musim panas 2026, seluruh video game yang memiliki mekanisme loot box atau item acak berbayar akan secara otomatis mendapatkan rating minimal PEGI 16.

Kebijakan ini menjadi langkah penting dalam menyesuaikan regulasi dengan tren monetisasi modern di industri game global, yang dinilai semakin menyerupai mekanisme perjudian digital.

Loot Box Dinilai Mirip Sistem Judi

Loot box merupakan sistem di mana pemain membeli item virtual secara acak menggunakan uang nyata atau mata uang dalam game. Contohnya termasuk sistem gacha, paket kartu pemain, atau kotak hadiah dengan isi yang tidak diketahui sebelumnya.

Karena berbasis peluang dan tidak transparan bagi pemain, banyak regulator di berbagai negara mulai menyoroti dampak psikologisnya, terutama bagi pemain di bawah umur.

Dengan aturan baru dari PEGI, game yang menawarkan “paid random items” secara otomatis dianggap tidak sesuai untuk pemain di bawah usia 16 tahun.

Penilaian Baru: Blockchain, NFT, hingga Fitur Online

Perubahan sistem rating PEGI 2026 juga memperluas kategori penilaian terhadap berbagai fitur interaktif dalam game.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Game dengan teknologi blockchain atau NFT akan langsung mendapatkan rating PEGI 18
  • Fitur komunikasi online tanpa moderasi memadai dapat menaikkan rating menjadi PEGI 12 atau lebih tinggi
  • Sistem time-limited offers (penawaran terbatas waktu) juga akan menjadi pertimbangan tambahan dalam klasifikasi usia

Salah satu genre yang kemungkinan besar terdampak adalah game olahraga tahunan seperti seri EA Sports FC dari Electronic Arts.

Mode populer seperti Ultimate Team, yang menggunakan sistem paket kartu pemain berbasis peluang, selama ini sering mendapatkan rating rendah seperti PEGI 3. Dengan aturan baru, game semacam ini berpotensi naik menjadi PEGI 16 jika tetap mempertahankan sistem loot box.

Relevansi bagi Sistem Rating Game di Indonesia

Perubahan kebijakan ini juga menarik untuk dibandingkan dengan sistem klasifikasi game di Indonesia, yaitu Indonesia Game Rating System (IGRS) yang dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Saat ini, IGRS membagi klasifikasi game ke dalam kategori:

  • SU (Semua Umur)
  • 3+
  • 7+
  • 13+
  • 15+
  • 18+

Namun penilaian tersebut masih lebih berfokus pada konten visual, seperti kekerasan, bahasa, dan tema dewasa. Mekanisme monetisasi berbasis peluang seperti loot box atau gacha belum menjadi faktor utama dalam penilaian rating.

Padahal, pasar game free-to-play dengan sistem gacha memiliki basis pemain yang sangat besar di Indonesia.

Momentum Evaluasi Regulasi Game

Perubahan regulasi dari PEGI dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah Indonesia dalam mengevaluasi sistem klasifikasi game yang ada saat ini.

Ke depan, penyesuaian pada IGRS mungkin perlu mempertimbangkan aspek ekonomi digital dalam game, termasuk mekanisme monetisasi berbasis peluang. Hal ini penting untuk memberikan perlindungan yang lebih komprehensif bagi pemain muda sekaligus membantu orang tua memahami risiko yang mungkin muncul dari sistem tersebut.

Menuju Ekosistem Game yang Lebih Sehat

Transformasi sistem rating ini menunjukkan bahwa risiko dalam game modern tidak lagi hanya berkaitan dengan apa yang tampil di layar, tetapi juga bagaimana game berinteraksi dengan kondisi finansial dan psikologis pemain.

Meski kebijakan ini hanya berlaku di wilayah Eropa, dampaknya diperkirakan akan terasa secara global. Banyak pengembang game kemungkinan harus meninjau ulang strategi monetisasi mereka agar tetap dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi momentum penting untuk memperkuat regulasi digital sekaligus menciptakan ekosistem gaming yang lebih sehat, transparan, dan aman bagi generasi muda.

Leave a Comment

Optimized by Optimole