Roblox kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan berupaya memindahkan lebih dari 150 gugatan terkait keselamatan anak dari pengadilan terbuka ke proses arbitrase tertutup.
Menurut laporan Bloomberg pada 10 Juni 2026, Roblox mengajukan permintaan agar gugatan-gugatan tersebut diselesaikan melalui arbitrase berdasarkan ketentuan layanan (Terms of Service) yang disetujui pengguna saat membuat akun. Jika permintaan tersebut dikabulkan, proses hukum tidak akan berlangsung di pengadilan publik dan sebagian besar detail kasus tidak dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
Kasus ini merupakan bagian dari gelombang tuntutan hukum yang telah dihadapi Roblox selama beberapa tahun terakhir. Sejumlah keluarga menuduh platform tersebut gagal memberikan perlindungan yang memadai terhadap anak-anak dari ancaman predator online.
Salah Satu Kasus Melibatkan Upaya Predator Menghubungi Anak
Salah satu penggugat yang disebut dengan nama samaran “Myra” untuk melindungi identitas putrinya mengungkapkan bahwa seorang pria asal Australia diduga menyamar sebagai anak-anak di Roblox sebelum menghubungi putrinya.
Menurut gugatan tersebut, pria tersebut mengirimkan pesan yang berisi deskripsi tindakan seksual eksplisit dan berencana menemui korban secara langsung sebelum akhirnya dicegah oleh FBI.
“Mereka hanya ingin menyembunyikan semuanya di balik layar. Mereka tidak ingin semua orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Myra dalam laporan Bloomberg.
Platform Discord yang turut disebut sebagai tergugat dalam beberapa kasus juga diketahui menggunakan klausul arbitrase serupa. Para penggugat menuduh sejumlah predator memindahkan percakapan dengan korban dari Roblox ke Discord setelah melakukan kontak awal melalui game tersebut.
Sejumlah Hakim Menolak Permintaan Arbitrase
Meski demikian, upaya Roblox belum sepenuhnya berhasil. Beberapa hakim federal sebelumnya telah menolak permintaan Roblox dan Discord untuk memindahkan kasus ke arbitrase tertutup.
Namun proses banding masih berlangsung sehingga penyelesaian final diperkirakan belum akan tercapai hingga akhir tahun 2026.
Kasus ini juga memicu perdebatan yang lebih luas mengenai penggunaan klausul arbitrase dalam perkara yang melibatkan eksploitasi seksual terhadap anak di bawah umur. Sejumlah kelompok advokasi saat ini mendorong pemerintah Amerika Serikat untuk memperluas perlindungan hukum yang melarang perusahaan memaksa korban kasus eksploitasi seksual menyelesaikan perkara melalui arbitrase.
Roblox Terus Tambah Fitur Keamanan
Dalam beberapa tahun terakhir, Roblox telah meluncurkan berbagai fitur keamanan baru untuk menjawab kritik terkait perlindungan anak.
Perusahaan memperkenalkan verifikasi usia berbasis pemindaian wajah, meningkatkan kontrol orang tua, serta menyepakati penyelesaian senilai 12,5 juta dolar AS dengan negara bagian Nevada yang melarang orang dewasa mengirim pesan langsung kepada anak-anak di platform tersebut.
Meski berbagai langkah tersebut telah diterapkan, tuntutan hukum terhadap Roblox masih terus bermunculan. Banyak pihak menilai perubahan yang dilakukan perusahaan belum cukup untuk mengatasi berbagai risiko yang selama ini menjadi perhatian utama para orang tua.
Tekanan terhadap Roblox Semakin Besar
Kasus ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Roblox dalam beberapa tahun terakhir. Dengan jutaan pemain aktif yang sebagian besar berusia muda, perusahaan terus berada di bawah pengawasan regulator, orang tua, dan organisasi perlindungan anak.
Apabila gugatan-gugatan tersebut tetap berlanjut di pengadilan terbuka, Roblox berpotensi menghadapi sorotan yang lebih besar terkait efektivitas sistem keamanan yang selama ini mereka terapkan.

