Serial pendek Chalk Warfare yang populer di YouTube akhirnya mendapatkan adaptasi video game. SoKrispyMedia mengumumkan Chalk Warfare, sebuah multiplayer shooter yang membawa konsep unik dari film pendek mereka: pemain bisa menggambar senjata sendiri dan langsung menggunakannya di dalam game.
Konsep tersebut bukan sekadar gimmick visual. Game ini menggunakan sistem pengenalan gambar secara real-time yang dikembangkan khusus oleh tim SoKrispyMedia untuk menerjemahkan gambar pemain menjadi senjata yang bisa digunakan dalam pertempuran.
Serial Chalk Warfare sendiri pertama kali dibuat oleh Sam Wickert dan Eric Uys pada 2012. Hingga kini, empat film pendek utamanya telah mengumpulkan lebih dari 350 juta views di YouTube.
Gambar Senjata Sendiri, Langsung Jadi di Dalam Game
Hal paling menarik dari Chalk Warfare tentu saja mekanisme menggambar senjatanya. Pemain tidak hanya memilih senjata dari menu, tetapi benar-benar membuat desainnya sendiri.
Bentuk gambar yang dibuat akan memengaruhi cara senjata tersebut bekerja. Menambahkan grip dapat mengubah cara karakter memegang dan menembakkannya, sementara menggambar sight memungkinkan pemain membidik melalui bagian tersebut. Ukuran magazine juga dapat memengaruhi jumlah amunisi.
Dengan demikian, sistem ini memungkinkan pemain bereksperimen dengan berbagai desain senjata selama bermain.
Menurut informasi pada halaman Steam-nya, sistem tersebut tidak menggunakan sekumpulan template senjata yang sudah ditentukan. SoKrispyMedia justru mengembangkan arsitektur pengenalan gambar sendiri dan melatihnya menggunakan data mereka agar dapat memahami gambar yang dibuat pemain.
Dikembangkan Selama Bertahun-tahun
Konsep Chalk Warfare sebenarnya sudah lama ingin dibawa ke video game. Namun, proses pengembangannya ternyata tidak berjalan mulus.
Sam Wickert menjelaskan bahwa tim sempat mencoba berbagai pendekatan. Salah satunya menggunakan sudut pandang third-person, tetapi dianggap belum cukup menarik. Mereka juga pernah mencoba sistem berbasis template senjata sebelum akhirnya memutuskan untuk membangun teknologi pengenalan gambar sendiri.
Pengembangan sistem tersebut menjadi salah satu bagian terbesar dari perjalanan game ini. Bahkan saat demonstrasi di Unreal Fest, tim memperlihatkan tampilan debug yang memungkinkan penonton melihat bagaimana sistem mereka membaca gambar pemain secara langsung.
Menariknya, teknologi tersebut juga masih terus dikembangkan. Wickert mengatakan sistem pengenalan tersebut dapat semakin baik seiring dengan semakin banyaknya penggunaan.
Karakter Lama Ikut Kembali
SoKrispyMedia juga tidak melupakan akar Chalk Warfare sebagai serial YouTube.
Tutorial dalam game akan dipandu oleh Stuart, salah satu karakter yang sudah dikenal penggemar serial tersebut. Karakter ini bahkan memiliki ratusan voice line untuk berbagai reaksi ketika terkena tembakan.
Dengan pendekatan tersebut, Chalk Warfare tampaknya tidak hanya mengambil nama dari serial lamanya, tetapi juga berusaha membawa elemen yang membuat film pendek tersebut populer ke dalam format game.
Sempat Dihantam Bug Sebelum Demo
Menariknya, proses pengujian Chalk Warfare juga sempat menghadapi masalah teknis. Tim mengundang sekelompok playtester berusia sekitar 18 tahun hanya beberapa hari sebelum demonstrasi berlangsung.
Para pemain tersebut dengan cepat menemukan sejumlah bug, termasuk masalah yang membuat tangan karakter mengalami glitch di tengah sesi permainan.
Tim kemudian menghabiskan tiga malam tanpa tidur untuk memperbaiki berbagai masalah tersebut sebelum demo akhirnya ditampilkan.
Bagi Wickert, semua kerja ekstra tersebut terasa sepadan setelah melihat orang lain akhirnya bisa memainkan konsep yang selama ini mereka kembangkan.
Ia bahkan mengaku bahwa proyek ini menjadi salah satu ide game yang kembali membuatnya bersemangat setelah sekian lama.
Saat ini, Chalk Warfare telah tersedia untuk wishlist di Steam, meski informasi lengkap mengenai tanggal rilisnya masih belum diumumkan.
Kalau mau, berita ini juga bisa dibuat lebih clickbait ala headline Gamerslife atau dibuat sedikit lebih “gaming news banget” dengan opening yang lebih nendang.

