Setelah membawa seri ini ke Jepang era 1960-an lewat Silent Hill f, Konami kembali membawa pemain ke lokasi yang sama sekali berbeda dalam Silent Hill: Townfall.
Kali ini, kabut khas Silent Hill menyelimuti sebuah kota pesisir terpencil di Skotlandia pada era 1990-an. Pemain akan berhadapan dengan karakter-karakter baru, makhluk mengerikan, serta sebuah kisah penuh trauma yang perlahan membuka rahasia di balik kota tersebut.
Townfall juga mengambil keputusan yang cukup berani. Berbeda dari sebagian besar game Silent Hill modern, game ini menggunakan perspektif first-person untuk eksplorasi sekaligus combat.
Hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Meski ada beberapa kelemahan, perspektif tersebut justru membuat pengalaman horornya terasa jauh lebih dekat dan personal.
Terjebak di Kota Berkabut sebagai Simon Ordell
Pemain berperan sebagai Simon Ordell, seorang pria yang kehilangan ingatannya dan tiba-tiba terbangun di kota pesisir bernama St. Amelia.
Simon tidak mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di pelabuhan kota tersebut. Ia juga tidak memahami alasan sebuah infus masih terpasang di lengannya.
Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah kebutuhan untuk “memperbaiki semuanya”.
Semakin jauh menjelajahi St. Amelia, Simon mulai menemukan berbagai rahasia yang tersembunyi di balik kabut. Perlahan, ia juga harus memahami hubungan dirinya dengan tragedi yang menimpa kota tersebut.
Ceritanya memang tidak serumit Silent Hill f, tetapi Townfall mampu mempertahankan salah satu elemen penting seri ini: trauma psikologis karakter yang perlahan terungkap melalui lingkungan dan kejadian supernatural.
Tiga Karakter dengan Kisah yang Saling Terhubung
Narasi Townfall tidak hanya berpusat pada Simon.
Cerita juga berpindah antara sudut pandang Simon, seorang perawat bernama Zoe, serta Richard, seorang direktur perusahaan.
Hubungan ketiganya menjadi salah satu alasan utama untuk terus memainkan game ini. Tanpa membocorkan terlalu banyak, perlahan pemain akan mengetahui bagaimana kehidupan ketiga karakter tersebut saling berkaitan.
Playthrough pertama membutuhkan sekitar 15 jam, dan game ini juga menawarkan beberapa ending alternatif. Hal tersebut memberikan alasan untuk kembali menjelajahi St. Amelia setelah menyelesaikan cerita pertama.
Townfall memang tidak selalu menghadirkan cerita yang rumit, tetapi misteri yang dibangun cukup efektif untuk membuat pemain ingin terus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
First-Person Membuat Horornya Lebih Dekat
Perubahan terbesar Townfall tentu saja adalah perspektif kamera.
Seri Silent Hill sebelumnya lebih identik dengan sudut pandang third-person, tetapi Townfall sepenuhnya menggunakan first-person untuk eksplorasi maupun pertempuran.
Bagi penggemar lama, perubahan ini mungkin terdengar cukup berisiko. Namun, justru di sinilah salah satu kekuatan terbesar Townfall.
Ketika berjalan melewati lorong sempit atau mengintip sudut ruangan, pemain tidak bisa melihat kondisi di sekitar Simon dari luar. Ketika sebuah makhluk tiba-tiba muncul hanya beberapa sentimeter di depan wajah, reaksinya terasa jauh lebih spontan.
Sering kali pilihan terbaik hanyalah berlari mencari tempat aman atau bersembunyi sebelum monster berhasil mendekat.
CRTV Jadi Alat Penting untuk Bertahan Hidup
Simon juga membawa sebuah televisi portabel atau CRTV yang ternyata bukan sekadar aksesori.
Dengan menekan tombol L1, perangkat tersebut dapat digunakan untuk melihat semacam siaran visual yang membantu menunjukkan petunjuk puzzle dan lokasi penting.
Yang menarik, CRTV juga dapat memperlihatkan siluet musuh yang berada di sekitar Simon. Mekanik ini membuat eksplorasi terasa seperti perpaduan antara mencari petunjuk dan terus mengawasi posisi ancaman.
Beberapa bagian bahkan mengingatkan pada Alien: Isolation. Pemain harus memperhatikan keberadaan musuh, menggunakan benda tertentu sebagai pengalih perhatian, kemudian mencari tempat bersembunyi ketika situasi mulai tidak terkendali.
Terutama ketika berhadapan dengan makhluk bernama The Weight, yang tidak bisa dibunuh.
Bagian-bagian tersebut menjadi salah satu momen paling menegangkan sepanjang permainan.
Combat Tetap Ada, tapi Amunisi Terbatas
Meski Townfall mengandalkan stealth, pemain tidak sepenuhnya tidak berdaya.
Senjata khas survival horror seperti pipa besi, papan kayu, shotgun, dan pistol tersedia untuk membantu Simon bertahan hidup.
Namun, jangan berharap bisa menghabisi semua monster yang ditemui.
Senjata melee dapat rusak, sementara amunisi cukup terbatas. Karena itu, memilih kapan harus bertarung dan kapan sebaiknya kabur menjadi bagian penting dari permainan.
Combat-nya memang tidak seintens Silent Hill f, tetapi ada beberapa bagian di mana game sengaja melepaskan pemain dari atmosfer stealth dan mendorong mereka untuk bertarung habis-habisan.
Salah satu bagian menjelang akhir bahkan membuat Simon harus menyapu sebuah gedung bertingkat sambil menggunakan shotgun untuk menghadapi gerombolan monster.
Perubahan tempo tersebut terasa cukup memuaskan setelah sebelumnya pemain lebih sering menghindari ancaman.
St. Amelia Jadi Salah Satu Bintang Utama
Kalau ada satu aspek Townfall yang benar-benar sulit untuk diabaikan, jawabannya adalah lingkungannya.
St. Amelia merupakan kota pesisir yang dipenuhi kabut, rumah-rumah tua, toko kecil, jalan berbatu, serta bangunan industri yang terasa seperti lokasi nyata.
Desain kotanya terinspirasi dari St Monans, sebuah desa di wilayah East Neuk of Fife, Skotlandia.
Latar tahun 1990-an juga dimanfaatkan dengan baik.
Masuk ke rumah-rumah penduduk terasa seperti membuka kapsul waktu. Televisi tabung, komputer berukuran besar, dekorasi interior lawas, hingga berbagai benda sehari-hari membuat dunia Townfall terasa autentik.
Eksplorasi first-person juga membuat detail tersebut semakin mudah dinikmati. Pemain bisa membuka lemari, memeriksa ruangan, menyalakan komputer lama, bahkan membaca email yang tersimpan di dalamnya.
Memang terdengar sederhana, tetapi detail-detail kecil seperti inilah yang membuat St. Amelia terasa seperti tempat yang benar-benar pernah dihuni.
Sayangnya, Monster-nya Kurang Berkesan
Kekuatan visual lingkungan Townfall sayangnya tidak sepenuhnya diikuti oleh desain monster.
Dibandingkan Pyramid Head dari Silent Hill 2 atau berbagai makhluk grotesk dalam Silent Hill f, musuh-musuh Townfall terasa jauh lebih generik.
Monster berkaki dua yang ditemui sejak awal memang mampu memberikan kejutan dan tekanan, tetapi efeknya mulai berkurang setelah pemain terlalu sering bertemu dengan jenis makhluk yang sama.
Masalah tersebut semakin terasa ketika game meminta pemain melakukan backtracking untuk menyelesaikan puzzle.
Berjalan kembali melewati area yang sama sambil menghadapi monster yang sama berulang kali membuat rasa takut perlahan berubah menjadi rutinitas.
Puzzle Masih Naik Turun
Puzzle menjadi bagian lain yang terasa tidak konsisten.
Ada beberapa teka-teki yang cukup menarik dan mendorong pemain memperhatikan detail lingkungan. Namun, ada juga puzzle yang terasa kurang intuitif dan membuat progres permainan sedikit tersendat.
Ketika digabungkan dengan kebutuhan untuk bolak-balik antara bangunan dan lantai tertentu, bagian tersebut terkadang terasa lebih melelahkan daripada menegangkan.
Untungnya, atmosfer, eksplorasi, dan misteri ceritanya cukup kuat untuk membuat pengalaman keseluruhan tetap menarik.
Verdict
Silent Hill: Townfall mengambil risiko besar dengan meninggalkan perspektif third-person dan sepenuhnya menggunakan first-person.
Untungnya, perubahan tersebut justru menjadi salah satu kekuatan utamanya.
Eksplorasi St. Amelia terasa intim, atmosfernya mencekam, dan beberapa bagian stealth berhasil memberikan ketegangan yang mengingatkan pada game seperti Alien: Isolation dan Resident Evil 7.
Memang, desain monster yang kurang variatif dan beberapa puzzle yang tidak konsisten menjadi titik lemah. Combat juga tidak selalu sekuat Silent Hill f.
Namun, Townfall tetap berhasil memberikan pengalaman Silent Hill yang terasa berbeda tanpa meninggalkan identitas psikologis seri ini.
Dengan kota pesisir yang indah sekaligus menyeramkan, kisah penuh trauma, serta perspektif first-person yang membuat setiap sudut terasa berbahaya, Silent Hill: Townfall menjadi salah satu chapter baru yang menarik untuk seri horor legendaris ini.

