Masalah cheater di game online ternyata bukan sekadar gangguan bagi pemain, tetapi juga telah berkembang menjadi sebuah industri dengan nilai yang sangat besar.
Activision mengklaim pasar cheat video game kini telah menjadi “multi-billion-dollar marketplace” dan mengutip analisis dari perusahaan intelijen ancaman Intorqa yang memperkirakan ekonomi industri cheat mencapai sekitar US$8,5 miliar per tahun.
Angka tersebut muncul ketika Activision semakin agresif memberantas ekosistem cheat Call of Duty, baik melalui sistem anti-cheat RICOCHET maupun tindakan hukum terhadap para pembuat dan distributor cheat.
Pasar Cheat Disebut Bernilai US$8,5 Miliar
Menurut Activision, ekosistem cheat saat ini tidak lagi hanya terdiri dari developer yang membuat program ilegal lalu menjualnya kepada pemain.
Pasarnya telah berkembang mencakup berbagai layanan, seperti reseller, sistem langganan cheat, akun ilegal, cheat versi modifikasi, spoofing tools, hingga jaringan distribusi yang terorganisasi.
Activision mengutip analisis Intorqa yang memperkirakan seluruh ekonomi tersebut memiliki nilai sekitar US$8,5 miliar setiap tahunnya.
Namun, angka ini merupakan proyeksi dari analisis pihak ketiga, bukan berarti Activision sendiri menghasilkan atau mengidentifikasi pendapatan sebesar US$8,5 miliar dari aktivitas cheat.
Activision Mulai Memburu Penjual Cheat
Untuk menghadapi masalah tersebut, Activision tidak hanya mengandalkan RICOCHET Anti-Cheat untuk mendeteksi pemain yang menggunakan program ilegal.
Perusahaan juga mengambil langkah hukum dan menargetkan pihak yang berada di balik distribusi cheat.
Activision mengklaim telah:
- Mengganggu lebih dari 375 operasi reseller
- Mengirim lebih dari 80 surat cease-and-desist
- Membantu menghentikan 31 vendor cheat utama
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pengembangan sistem RICOCHET yang terus diperbarui untuk mendeteksi berbagai metode kecurangan.
Cheater Bisa Habiskan Ribuan Dolar per Tahun
Besarnya pasar cheat juga didorong oleh model bisnis yang menggunakan sistem langganan.
Activision mengatakan beberapa pemain bahkan dapat menghabiskan hingga US$1.000 per tahun untuk mempertahankan akses terhadap cheat.
Biaya tersebut tidak hanya digunakan untuk membeli program cheat, tetapi juga bisa mencakup berbagai alat untuk menghindari deteksi serta akun pengganti ketika akun utama terkena sanksi.
Activision memperkirakan biaya tersebut bisa semakin mahal seiring meningkatnya upaya perusahaan dalam memberantas para cheater.
Dengan RICOCHET yang semakin agresif, pemain yang ingin terus menggunakan cheat harus menghadapi risiko akun diblokir dan kemungkinan harus mengeluarkan uang lagi untuk mendapatkan akses baru.
Activision Juga Pernah Menang Melawan Vendor Cheat
Penindakan terhadap pembuat cheat bukan sesuatu yang baru dilakukan Activision.
Pada 2024, salah satu kasus besar melibatkan EngineOwning, penyedia cheat Call of Duty yang digugat Activision.
Dalam perkara tersebut, EngineOwning diperintahkan membayar lebih dari US$14 juta kepada Activision.
Kasus tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana Activision menggunakan jalur hukum selain teknologi anti-cheat untuk menyerang bisnis cheat.
RICOCHET Jadi Bagian dari Perang yang Lebih Besar
Persoalan cheat di Call of Duty pada akhirnya bukan hanya soal mendeteksi pemain yang menggunakan aimbot atau wallhack.
Activision kini berusaha menyerang seluruh rantai bisnis di belakangnya, mulai dari pembuat software, reseller, distributor, hingga layanan yang membantu pemain menghindari sistem keamanan.
Dengan proyeksi nilai pasar yang disebut mencapai US$8,5 miliar per tahun, tidak mengherankan jika perusahaan melihat ekosistem cheat sebagai masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar beberapa pemain yang melanggar aturan.
Bagi pemain Call of Duty, dampaknya diharapkan bisa terasa dalam bentuk lingkungan multiplayer yang lebih bersih. Namun, perang antara sistem anti-cheat dan pembuat cheat sendiri kemungkinan masih akan terus berlangsung selama pasar tersebut tetap memiliki permintaan.

