Setelah resmi mengakuisisi Electronic Arts (EA) awal tahun ini melalui konsorsium senilai 55 miliar dolar AS, Public Investment Fund (PIF) milik Arab Saudi dikabarkan kembali bersiap mengencangkan cengkeramannya di industri game. Menurut laporan Reuters, PIF bersama firma investasi Silver Lake kini membidik Unity Software, perusahaan di balik mesin pengembang (game engine) lintas platform terkemuka, Unity.
Peran Silver Lake dan Potensi Nilai Akuisisi
Silver Lake sendiri bukanlah nama asing bagi Unity. Perusahaan investasi tersebut telah menjadi salah satu pemegang saham terbesar Unity sejak menanamkan modal sekitar 400 juta dolar AS pada 2017 lalu, yang memberi mereka porsi kepemilikan sekitar 8%.
Selain kepemilikan saham, Egon Durban dari Silver Lake juga menjabat di jajaran dewan direksi Unity. Peran ganda ini umumnya menuntutnya untuk mengundurkan diri dari pertimbangan dewan direksi terkait keputusan penjualan perusahaan.
Pembahasan akuisisi ini disebut-sebut melibatkan valuasi mencapai sekitar 25 miliar dolar AS. Pembicaraan tersebut mengemuka tepat saat Unity melaporkan kinerja keuangan terbarunya yang mencatatkan keuntungan lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Kebangkitan Unity Lewat Iklan AI
Pemulihan kondisi finansial Unity tidak hanya didorong oleh peningkatan performa mesin gamenya. Pertumbuhan pesat platform periklanan berbasis AI milik Unity, Vector, berkontribusi besar membawa perusahaan mencetak laba kuartalan pertama berdasarkan standar GAAP sejak pertama kali melantai di bursa saham pada September 2020 lalu.
Kekhawatiran Industri di Tengah Gelombang Konsolidasi
Potensi pencapaian kesepakatan ini memicu kekhawatiran di kalangan pekerja industri game. Pasalnya, langkah serupa yang menimpa EA pasca-akuisisi berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal serta tanggungan utang perusahaan yang membengkak hingga 18 miliar dolar AS.
Rencana akuisisi Unity ini kian mempertegas tren konsolidasi besar-besaran di industri game global. Langkah-langkah akuisisi oleh konsorsium raksasa ini dikhawatirkan akan memusatkan kepemilikan industri hanya di tangan beberapa pihak saja di tengah ketidakpastian lapangan kerja bagi para pengembang.

