Bigetron Esports Kecam Aksi Rasisme terhadap Ball di KWC 2026, Komunitas HOK Berikan Dukungan

Raihan

August 3, 2026

Turnamen Honor of Kings World Cup (KWC) 2026 tercoreng oleh aksi yang menuai kecaman dari komunitas esports. Pemain Bigetron Esports, Ball, menjadi sasaran konten bernada rasis yang diduga dibuat oleh oknum netizen asal Tiongkok.

Insiden tersebut langsung memicu gelombang reaksi dari komunitas Honor of Kings. Banyak penggemar dan pelaku esports menilai tindakan tersebut sudah melewati batas karena menyerang identitas seseorang, bukan lagi sekadar rivalitas antar tim maupun negara.

Ball Jadi Sasaran Konten Bernada Rasis

Konten yang beredar di media sosial memperlihatkan Ball menjadi objek ejekan dengan narasi yang mengandung unsur rasisme. Salah satu kalimat yang paling menuai sorotan adalah penyebutan “Slums of Africa”, yang ditujukan kepada pemain Bigetron Esports tersebut.

Ungkapan tersebut dianggap sebagai bentuk penghinaan yang mengaitkan ras dan latar belakang seseorang dengan stereotip negatif. Video itu pun dengan cepat menyebar di berbagai platform dan memancing kemarahan komunitas Honor of Kings, termasuk penggemar dari Indonesia.

Hingga kini, konten tersebut masih menjadi perbincangan luas dan disebut-sebut berasal dari oknum netizen Tiongkok, meski identitas pembuatnya belum dipastikan secara resmi.

Bigetron Esports Beri Kecaman Tegas

Menanggapi insiden tersebut, Bigetron Esports mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras segala bentuk tindakan rasisme terhadap pemainnya.

Melalui media sosial resmi mereka, organisasi Robot Merah menegaskan bahwa esports seharusnya menjadi wadah yang menjunjung tinggi rasa saling menghormati tanpa memandang ras, suku, maupun kebangsaan.

Bigetron juga menyatakan tidak akan mentoleransi segala bentuk diskriminasi dan ujaran kebencian terhadap siapa pun, baik yang ditujukan kepada Ball maupun pemain lain di dunia esports.

Komunitas Honor of Kings Turut Bersuara

Tak lama setelah pernyataan Bigetron dirilis, dukungan untuk Ball terus berdatangan dari komunitas Honor of Kings. Banyak pemain profesional, kreator konten, hingga penggemar menyampaikan pesan solidaritas dan mengutuk tindakan rasis tersebut.

Sebagian besar komunitas menilai rivalitas di panggung internasional memang tidak bisa dihindari, tetapi membawa isu ras dan identitas pribadi ke dalam kompetisi merupakan tindakan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Insiden ini juga memunculkan kembali diskusi mengenai pentingnya menjaga sportivitas dan etika di ranah esports internasional, terutama ketika turnamen mempertemukan tim dari berbagai negara dan budaya.

KWC 2026 Seharusnya Jadi Ajang Persaingan Sehat

Honor of Kings World Cup 2026 mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai region untuk memperebutkan gelar juara dunia. Namun, insiden yang menimpa Ball menjadi pengingat bahwa kompetisi tidak hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga tentang bagaimana seluruh pihak menjaga nilai sportivitas.

Rivalitas boleh terjadi di dalam permainan, tetapi rasisme tidak memiliki tempat di esports. Dukungan yang mengalir kepada Ball menunjukkan bahwa mayoritas komunitas Honor of Kings berdiri menentang segala bentuk diskriminasi dan berharap insiden serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.

Leave a Comment

Optimized by Optimole