Bocah 11 Tahun Raih Emas Asian Games di Esports Setelah Makan Belut untuk Persiapan

Raihan

September 29, 2026

Dunia esports kembali menghadirkan cerita unik. Seorang pemain asal Jepang berusia 11 tahun berhasil meraih medali emas Asian Games 2026 setelah mengalahkan sejumlah pemain dewasa dalam cabang esports Puyo Puyo Champions.

Adalah Yuki Kurihara, pemain muda asal Jepang yang berhasil mengalahkan wakil Korea Selatan berusia 24 tahun, Kang Dongshin, dengan skor telak 10-2 pada pertandingan final yang berlangsung pada 26 September.

Kemenangan tersebut membuat Kurihara menjadi salah satu atlet termuda yang pernah tampil untuk Jepang di ajang Asian Games.

Yuki Kurihara Tak Gentar Hadapi Pemain Dewasa

Meski baru berusia 11 tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar, Kurihara menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk bersaing di level internasional.

Perjalanannya menuju final bahkan sudah memperlihatkan dominasinya. Di semifinal, ia berhadapan dengan pemain Thailand berusia 28 tahun, Tanarak Wongkitkun.

Kurihara berhasil memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 10-1, hanya kehilangan satu ronde dari lawannya.

Pada partai final, Kurihara sempat tertinggal 0-1 dari Kang Dongshin. Namun, pemain muda tersebut kemudian mengambil alih pertandingan dan membalikkan keadaan hingga akhirnya mengamankan kemenangan 10-2.

Menariknya, meski berhasil memenangkan medali emas di hadapan penonton tuan rumah, Kurihara justru terlihat cukup tenang setelah pertandingan.

“Sejujurnya, saya merasa sedikit malu, jadi saya tidak bisa terlalu menunjukkan ekspresi atau mengubah wajah saya,” ujar Kurihara kepada AFP.

Mulai Bermain Sejak Kelas 1 SD

Kurihara sudah mengenal seri Puyo Puyo sejak tahun pertamanya di sekolah dasar. Ia kemudian mulai mengikuti berbagai turnamen dan berhasil meraih kemenangan meski harus bersaing dengan pemain yang jauh lebih berpengalaman.

Karier kompetitifnya semakin serius setelah Kurihara memperoleh lisensi profesional pada April 2026.

Puyo Puyo Champions sendiri merupakan game puzzle kompetitif yang mengharuskan pemain mencocokkan blob dengan warna yang sama untuk menghapusnya dari papan. Pemain kemudian dapat menciptakan rangkaian combo untuk memberikan tekanan kepada lawan.

Meskipun mekanismenya terlihat sederhana, pertandingan tingkat profesional membutuhkan refleks cepat, kemampuan membaca papan, serta pengambilan keputusan dalam waktu singkat.

Persiapannya Juga Cukup Unik

Salah satu hal yang membuat kisah Kurihara semakin menarik adalah cara uniknya mempersiapkan diri sebelum pertandingan.

Pemain berusia 11 tahun tersebut mengungkapkan bahwa ia makan belut sebagai bagian dari persiapan menghadapi pertandingan.

Di luar kompetisi, Kurihara juga harus membagi waktunya antara latihan, sekolah, dan kegiatan tambahan atau cram school.

Ia mengakui bahwa menjalani semuanya secara bersamaan memang tidak mudah.

“Sulit untuk menyeimbangkannya dengan sekolah dan cram school, tetapi sangat menyenangkan,” katanya.

Meski begitu, kerja keras tersebut akhirnya terbayar dengan medali emas Asian Games.

Medali Emas Terasa Berat dan Berkilau

Setelah pertandingan berakhir, Kurihara memang terlihat cukup kalem ketika menerima kemenangan tersebut. Namun, ekspresinya berubah ketika berbicara mengenai hadiah yang didapatkannya.

Ia mengaku sangat senang dengan medali emas yang berhasil diraih.

“Saya benar-benar bahagia. Medali emasnya sangat indah, berkilau dan berat.”

Selain medali, Kurihara juga mendapatkan sebuah boneka maskot berwarna emas yang menurutnya tidak kalah menarik.

“Boneka itu juga sangat lucu, dan keren karena warnanya emas.”

Kemenangan Kurihara menjadi salah satu cerita menarik dari perkembangan esports di Asian Games, sekaligus menunjukkan bahwa kompetisi game profesional kini bisa mempertemukan pemain dari berbagai kelompok usia.

Menariknya, kisah ini juga menjadi kontras dengan dunia gaming lainnya. Jika Kurihara menjadi salah satu atlet esports termuda yang mencuri perhatian, sebelumnya seorang nenek berusia 78 tahun juga mencatatkan namanya sebagai streamer Fortnite perempuan tertua di dunia.

Leave a Comment

Optimized by Optimole