Pemain profesional Rocket League, Kofyr, dijatuhi larangan bertanding di Rocket League Championship Series (RLCS) hingga akhir 2027. Hukuman tersebut dijatuhkan oleh Rocket League Esports setelah muncul dugaan perilaku tidak pantas terhadap sejumlah perempuan dalam sebuah pesta setelah turnamen RLCS Worlds.
Keputusan ini diumumkan pada 30 September 2026, beberapa hari setelah potongan video yang membahas dugaan insiden tersebut beredar di media sosial. Kasus ini kemudian menjadi perhatian komunitas esports, terutama setelah nama Kofyr ramai diperbincangkan oleh pengguna internet.
Meski demikian, pihak penyelenggara belum memublikasikan rincian lengkap insiden maupun bukti yang menjadi dasar keputusan disipliner tersebut.
Kofyr Terseret Dugaan Insiden di Pesta RLCS Worlds
Kasus ini mulai ramai setelah sebuah klip yang menampilkan streamer Bails membahas perilaku seorang pemain profesional asal Amerika Utara beredar di media sosial.
Klip tersebut dibagikan oleh Delmin pada 27 September. Dalam pembahasannya, Bails mengeklaim bahwa seorang pemain melakukan tindakan menyentuh bagian intim sejumlah perempuan ketika menghadiri pesta setelah RLCS Worlds.
Bails juga menyebut pemain tersebut datang dalam kondisi mabuk dan masih di bawah umur. Namun, ia tidak menyebutkan nama pemain yang dimaksud secara langsung.
Ia sempat mengesampingkan beberapa nama dan organisasi, termasuk Diaz, Spacestation Gaming, serta NRG. Setelah klip tersebut menyebar, sejumlah pengguna media sosial mulai berspekulasi bahwa sosok yang dibicarakan adalah Kofyr.
Penting dicatat bahwa spekulasi komunitas tersebut muncul sebelum pengumuman resmi hukuman. Dugaan perilaku yang beredar di media sosial juga perlu dibedakan dari rincian pelanggaran yang secara resmi dikonfirmasi oleh penyelenggara.
Kofyr Sampaikan Permintaan Maaf
Pada 28 September, Kofyr memberikan pernyataan terkait situasi yang berkembang. Ia meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman akibat perilakunya.
Dalam pernyataannya, Kofyr mengatakan telah menghubungi secara langsung orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan tindakannya. Ia juga menyampaikan rencana untuk mencari bantuan profesional sebagai bagian dari upayanya memperbaiki diri.
Selain itu, Kofyr menyebut beberapa langkah lain yang ingin dilakukannya, termasuk memberikan donasi kepada organisasi amal yang bergerak di bidang penanganan kekerasan seksual terhadap perempuan, beristirahat dari media sosial, serta berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun, pernyataan tersebut tidak menjelaskan secara spesifik tindakan yang dipermasalahkan dan tidak secara eksplisit menggunakan istilah kekerasan seksual.
Rocket League Esports Jatuhkan Larangan hingga Akhir 2027
Pengumuman resmi 30 September 2026. Rocket League Esports kemudian mengumumkan bahwa Kofyr dilarang mengikuti turnamen RLCS dan seluruh kompetisi lain yang berafiliasi dengan Psyonix hingga 31 Desember 2027.
Organisasi tersebut menyatakan bahwa Kofyr telah melanggar Bagian 7.1.3 dalam kode etik RLCS sebagai dasar penjatuhan hukuman.
Aturan tersebut mengatur perilaku yang dianggap mengganggu, tidak aman, merusak, atau membahayakan pengguna Rocket League lainnya. Cakupannya juga meliputi tindakan pelecehan, perilaku tidak menghormati orang lain, serta aktivitas yang melanggar hukum.
Meski demikian, Psyonix belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai insiden yang menjadi dasar sanksi, identitas pihak yang mengajukan keluhan, ataupun bukti yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Dampaknya bagi Karier Kompetitif Kofyr
Larangan tersebut membuat Kofyr tidak dapat berpartisipasi dalam turnamen RLCS maupun kompetisi lain yang berada di bawah afiliasi Psyonix selama masa hukuman berlangsung.
Bagi pemain profesional, sanksi seperti ini dapat memengaruhi kesempatan mengikuti turnamen resmi dan melanjutkan karier kompetitif di ekosistem game tersebut.
Untuk saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kemungkinan banding, perubahan hukuman, atau langkah lanjutan dari Kofyr maupun pihak penyelenggara.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kode etik dalam esports tidak hanya mengatur perilaku pemain ketika bertanding, tetapi turut mencakup tindakan mereka di luar pertandingan yang berkaitan dengan komunitas dan ekosistem kompetisi.

