Ayah di China Gugat 4 Perusahaan Game Cuma Rp10 Ribu karena Anaknya “Kecanduan”

Raihan

August 8, 2026

Seorang ayah di China mengambil langkah hukum terhadap empat perusahaan game besar setelah menilai sistem anti-kecanduan yang mereka terapkan gagal mencegah anaknya bermain secara berlebihan.

Menariknya, sang ayah tidak menuntut ganti rugi dalam jumlah besar. Ia hanya meminta kompensasi sebesar 10 yuan atau sekitar Rp10 ribu.

Pria bermarga Qin tersebut menggugat Tencent, NetEase, miHoYo, dan 37 Interactive Entertainment di Pengadilan Tanghe County, Provinsi Henan. Menurut laporan South China Morning Post, nominal tersebut sengaja dibuat kecil karena tujuan utama Qin bukan mendapatkan keuntungan finansial.

Ia ingin perusahaan-perusahaan game tersebut benar-benar menjalankan sistem perlindungan pemain di bawah umur sesuai aturan yang berlaku di China.

Anaknya Disebut Bermain Game hingga Dini Hari

Qin mengklaim putranya telah menghabiskan waktu bertahun-tahun bermain game online. Kebiasaan tersebut bahkan disebut membuat sang anak sering terjaga hingga pukul 3 atau 4 pagi ketika akhir pekan.

Salah satu data akun game yang diperiksa Qin menunjukkan sang anak telah bermain selama 1.868 jam sejak Maret 2024.

Jika dihitung berdasarkan periode tersebut, waktu bermainnya mencapai rata-rata sekitar 2,44 jam per hari.

Masalahnya, sistem pembatasan untuk pemain di bawah umur sebenarnya sudah diberlakukan secara ketat di China.

Qin menduga putranya berhasil mengakali sistem tersebut dengan menggunakan identitas kakaknya yang sudah dewasa untuk membuat akun.

Sang Ayah Ingin Sistem Anti-Kecanduan Diperketat

Gugatan tersebut bukan semata-mata muncul karena sang anak menghabiskan banyak waktu untuk bermain game.

Sekitar satu bulan sebelum gugatan, putra Qin yang telah berusia 18 tahun pada 2026 dilaporkan menelan 18 pil obat demam pada 23 Mei.

Setelah itu, ia mengalami keracunan obat, sempat jatuh pingsan, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sang anak akhirnya berhasil mendapatkan perawatan dan pulih.

Namun, hingga kini ia disebut belum menjelaskan kepada keluarganya alasan melakukan tindakan tersebut.

Qin menduga kebiasaan bermain game mungkin memiliki kaitan dengan kejadian itu. Meski demikian, hubungan antara aktivitas gaming dan insiden tersebut belum terbukti.

Karena itu, inti tuntutan Qin lebih diarahkan pada tanggung jawab perusahaan dalam memastikan sistem perlindungan pemain di bawah umur benar-benar berjalan.

China Sudah Membatasi Waktu Bermain Anak

China sendiri termasuk negara yang memiliki aturan cukup ketat mengenai aktivitas gaming anak-anak.

Sejak 2021, pemerintah China menerapkan pembatasan terhadap pemain di bawah umur. Mereka hanya diperbolehkan bermain game online selama satu jam pada Jumat, Sabtu, Minggu, serta hari libur nasional, tepatnya antara pukul 20.00 hingga 21.00.

Aturan tersebut dirancang untuk mengurangi risiko kecanduan sekaligus membatasi waktu yang dihabiskan anak-anak di dalam game.

Namun, kasus Qin menunjukkan bahwa penerapan aturan tersebut masih menghadapi tantangan, terutama ketika pemain menggunakan identitas orang dewasa untuk melewati sistem verifikasi.

Sidang Gugatan Masih Belum Berjalan

Kasus Qin sebenarnya dijadwalkan menjalani persidangan pada 6 Juli 2026.

Namun, proses tersebut ditunda setelah beberapa perusahaan yang digugat mempertanyakan kewenangan pengadilan dalam menangani perkara tersebut.

Hingga saat ini belum ada tanggal baru untuk persidangan.

Karena perkara masih berada pada tahap awal, belum ada keputusan pengadilan mengenai apakah perusahaan-perusahaan tersebut benar-benar gagal menjalankan kewajibannya atau bertanggung jawab atas kondisi yang dialami anak Qin.

Bukan Pertama Kalinya Game Dikaitkan dengan Gugatan Kecanduan

Kasus semacam ini bukan pertama kali terjadi di industri game.

Pada 2023, seorang ibu di Amerika Serikat juga pernah menggugat sejumlah perusahaan game besar dengan tuduhan bahwa produk mereka membuat anaknya mengalami kecanduan bermain game.

Ada pula kasus lain ketika seorang anak menggugat Nintendo setelah tidak sengaja menggunakan kartu kredit milik ayahnya untuk melakukan pembelian dalam game Mario Kart Tour.

Namun, perkara Qin memiliki sisi yang cukup berbeda. Ia tidak mengejar kompensasi besar dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Dengan hanya meminta 10 yuan, pesan yang ingin disampaikan justru lebih besar daripada nominal gugatannya: Qin ingin perusahaan game memperketat sistem verifikasi dan pembatasan agar aturan perlindungan anak tidak mudah dilewati.

Kini, hasil perkara tersebut masih bergantung pada proses hukum yang akan datang. Jika gugatan berlanjut, kasus ini juga berpotensi menjadi perhatian baru terhadap seberapa efektif sistem anti-kecanduan game di China dalam menghadapi pemain yang menggunakan identitas orang lain.

Leave a Comment

Optimized by Optimole