Pemerintah Inggris tengah mempertimbangkan aturan baru yang berpotensi membatasi anak-anak untuk berbicara dengan orang asing di game online seperti Fortnite dan Roblox.
Wacana ini muncul sebagai bagian dari pembahasan regulasi keamanan digital yang lebih luas. Sebelumnya, Inggris juga sedang mengkaji kemungkinan penerapan larangan media sosial untuk remaja, mengikuti langkah Australia yang lebih dulu menerapkan kebijakan serupa.
Game Online Ikut Masuk Sorotan
Menteri Keamanan Online Inggris, Kanishka Narayan, mengungkapkan bahwa kekhawatiran utamanya bukan hanya soal media sosial, tetapi juga fitur komunikasi yang ada di berbagai platform game online.
Dalam wawancaranya dengan The Sunday Times, Narayan menjelaskan bahwa isu yang paling banyak dibahas saat dirinya berkunjung ke Australia adalah fenomena “stranger pairing“, yaitu interaksi antara anak-anak dengan orang dewasa yang tidak mereka kenal secara langsung.
Menariknya, menurut Narayan, pembahasan tersebut lebih sering muncul dalam konteks platform game dibanding media sosial seperti TikTok atau Instagram.
“Itu akan menjadi pertimbangan penting saat kami memikirkan cara menghentikan berbagai risiko yang dapat membahayakan anak-anak,” ujarnya.
Roblox Jadi Salah Satu Sorotan
Nama Roblox kembali menjadi pusat perhatian dalam diskusi ini. Platform yang sangat populer di kalangan anak-anak tersebut selama beberapa tahun terakhir memang kerap mendapat kritik terkait perlindungan pengguna usia muda.
Berbagai laporan menyebutkan adanya kasus pelecehan hingga eksploitasi yang berawal dari pertemuan pelaku dan korban melalui Roblox. Bahkan di Amerika Serikat, puluhan orang pernah ditangkap atas dugaan penculikan maupun pelecehan terhadap korban yang mereka kenal lewat platform tersebut.
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Roblox baru-baru ini mengumumkan sistem kategori akun berdasarkan usia yang akan mengatur akses konten, fitur komunikasi, serta kontrol orang tua secara lebih ketat.
Komisioner Anak Inggris Ikut Angkat Bicara
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Children’s Commissioner for England, Rachel De Souza.
Dalam sebuah wawancara dengan Sky News, ia menyoroti bahwa anak laki-laki justru lebih banyak menghabiskan waktu bermain game dibanding menggunakan media sosial.
“Banyak anak laki-laki menghabiskan tiga hingga empat jam sehari untuk bermain game. Di beberapa game, seseorang berusia 55 tahun di Arizona bisa saja berbicara langsung dengan anak berusia sembilan tahun,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah mulai mempertimbangkan regulasi yang tidak hanya menyasar media sosial, tetapi juga platform game online.
Apakah Larangan Ini Efektif?
Meski tujuan utamanya adalah melindungi anak-anak, efektivitas kebijakan semacam ini masih menjadi perdebatan.
Australia yang lebih dulu menerapkan larangan media sosial untuk anak-anak justru masih menghadapi tantangan besar dalam pelaksanaannya. Beberapa perusahaan teknologi disebut belum sepenuhnya mampu memastikan usia pengguna secara akurat.
Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, bahkan menyebut bahwa verifikasi usia merupakan tantangan besar yang dihadapi seluruh industri teknologi saat ini.
Karena itu, sebagian pihak menilai masalah utamanya bukan terletak pada anak-anak yang mengakses platform digital, melainkan bagaimana perusahaan teknologi menyediakan sistem keamanan yang memadai.
Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?
Jika aturan ini benar-benar diterapkan di Inggris, dampaknya kemungkinan tidak akan langsung terasa di Indonesia. Namun ada beberapa potensi efek yang patut diperhatikan.
Pertama, developer dan publisher global seperti Epic Games maupun Roblox bisa saja mulai menerapkan sistem keamanan yang lebih ketat secara global, bukan hanya untuk wilayah Inggris. Hal ini bisa mencakup pembatasan voice chat, verifikasi usia yang lebih ketat, hingga peningkatan fitur parental control.
Kedua, regulasi tersebut dapat menjadi referensi bagi negara lain, termasuk Indonesia, yang saat ini juga tengah memperketat pengawasan terhadap aktivitas digital anak-anak.
Ketiga, pemain muda di Indonesia berpotensi merasakan perubahan fitur komunikasi jika perusahaan game memutuskan menerapkan kebijakan baru secara menyeluruh di seluruh server dunia.
Meski begitu, hingga saat ini belum ada keputusan final dari pemerintah Inggris. Wacana tersebut masih dalam tahap pembahasan dan bentuk aturan akhirnya masih bisa berubah sebelum benar-benar diterapkan.

