Steam sudah lama jadi platform utama para gamer PC untuk membeli game digital. Bahkan, banyak orang yang langsung membuka Steam ketika ingin mencari game baru tanpa melirik toko digital lainnya.
Karena dominasinya yang begitu besar, Valve pun kerap dituding memiliki monopoli di pasar distribusi game PC. Namun, CEO Valve sekaligus pendiri Steam, Gabe Newell, ternyata tidak setuju dengan anggapan tersebut.
Gabe Newell: Gamer Punya Banyak Pilihan
Melalui laporan terbaru dari Bloomberg, terungkap pernyataan Gabe Newell saat memberikan kesaksian pada tahun 2023 dalam kasus gugatan antimonopoli antara Valve dan Wolfire Games.
Kasus tersebut bermula pada 2021 ketika Wolfire menuduh Valve menerapkan kebijakan yang membuat developer kesulitan menjual game dengan harga lebih murah di platform pesaing Steam.
Saat ditanya mengenai posisi Steam di industri game PC, Gabe Newell menegaskan bahwa para pemain masih memiliki banyak pilihan untuk membeli game.
Menurutnya, gamer bebas menentukan sendiri tempat mereka membeli game, baik melalui Steam, Epic Games Store, Xbox, maupun langsung dari developer.
“Pelanggan memiliki pilihan yang sangat banyak,” ujar Gabe Newell dalam kesaksiannya.
Steam Masih Mendominasi Pasar Game PC
Meski Gabe menilai persaingan masih terbuka, data terbaru menunjukkan Steam memang jauh unggul dibanding kompetitornya.
Laporan tahun 2025 memperlihatkan bahwa Steam menguasai sekitar 75% pasar distribusi game digital PC di Amerika Serikat. Sementara itu, Epic Games Store yang menjadi pesaing terdekat hanya memiliki pasar sekitar 10%.
Angka tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan apakah Steam memang masih bisa dianggap sebagai platform yang bersaing secara sehat atau sudah terlalu dominan di industri.
Valve Bantah Atur Harga di Platform Lain
Dalam laporan yang sama, Gabe Newell juga membantah tuduhan bahwa Valve memiliki kebijakan untuk mencegah developer menjual game dengan harga lebih murah di toko digital lain.
Menurutnya, Valve tidak pernah mengatur harga yang ditetapkan developer di luar Steam.
“Valve tidak memiliki kebijakan atau praktik yang mengatur harga developer pihak ketiga di platform lain,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak partner dan pelanggan Valve yang merasa puas dengan layanan yang diberikan Steam selama ini.
Valve Masih Hadapi Berbagai Gugatan
Menariknya, kasus Wolfire bukan satu-satunya masalah hukum yang sedang dihadapi Valve.
Belum lama ini, perusahaan juga terseret gugatan terkait sistem loot box di Counter-Strike 2. Dalam pembelaannya, Valve bahkan sempat membandingkan loot box CS2 dengan mainan kejutan yang ada di Happy Meal McDonald’s, sebuah argumen yang cukup mengundang perhatian publik.
Terlepas dari berbagai kontroversi tersebut, satu hal yang sulit dibantah adalah Steam masih menjadi platform game PC terbesar saat ini. Tinggal pertanyaannya, apakah dominasi sebesar itu masih bisa disebut sebagai persaingan sehat atau justru sudah mendekati monopoli?

