IGRS Tak Sengaja Bocorkan Data Game Baru dari Backend

Raihan

April 14, 2026

Setelah sebelumnya sempat muncul kasus label rating IGRS (Indonesia Game Rating System) di Steam yang tidak sesuai, kini muncul isu baru yang lebih serius: kebocoran data dari backend situs IGRS.

Kasus ini langsung menarik perhatian, bukan hanya dari komunitas lokal, tapi juga pelaku industri game secara global.

Kronologi Kebocoran dari Backend IGRS

Kejadian ini pertama kali terungkap lewat postingan pengguna Reddit bernama Me_Finity pada 11 April 2026.

Awalnya, ia sedang mengembangkan frontend alternatif untuk database IGRS bernama IGRSDB. Namun dalam prosesnya, ia menemukan bahwa backend situs IGRS ternyata membuka akses ke sejumlah data sensitif.

Beberapa temuan yang cukup mengejutkan antara lain:

  • Sekitar 1000 email developer yang terpapar
  • Footage gameplay dari game yang belum dirilis
  • Data dari beberapa judul besar seperti 007 First Light dan Sword Art Online: Echoes of Aincrad

Temuan ini langsung menyebar dan jadi perbincangan luas di komunitas. Banyak yang mempertanyakan bagaimana sistem backend IGRS bisa mengakses dan secara tidak sengaja membocorkan data yang seharusnya bersifat privat.

Perbaikan Cepat dari IGRS

Dua hari setelah temuan tersebut, tepatnya pada 13 April 2026, Me_Finity mengonfirmasi bahwa IGRS sudah melakukan perbaikan.

Akses terhadap data sensitif yang sebelumnya terbuka kini sudah ditutup oleh tim internal. Meski begitu, kasus ini terlanjur memicu kekhawatiran besar, terutama soal keamanan data developer dan publisher.

Jadi Perhatian Industri Game

Isu ini tidak berhenti di komunitas saja. Beberapa pelaku industri, baik lokal maupun internasional, ikut angkat suara.

Dilansir dari Duniaku Salah satu tanggapan datang dari Nanda, CEO Gamecom Team sekaligus Director seri Troublemaker.

Ia mengaku sudah pernah menanyakan soal keamanan data ke pihak IGRS sejak tahun lalu. Saat itu, developer diminta mengunggah materi seperti screenshot dan video melalui Google Drive yang bisa diakses via link.

Menurutnya, hal ini sejak awal sudah menimbulkan kekhawatiran.

Nanda juga menyoroti bahwa masukan terkait keamanan sebenarnya sudah pernah disampaikan, namun belum terlihat perubahan signifikan. Ia berharap ada:

  • Klarifikasi yang transparan
  • Langkah konkret untuk meningkatkan keamanan
  • Sistem yang lebih aman untuk melindungi data developer

Ia bahkan menyebut bahwa diskusi soal isu ini sudah berulang tiap tahun, tanpa hasil yang benar-benar berbeda.

Perspektif Developer Global

Dari sisi internasional, Nic McConnell, Age Ratings Manager dari Riot Games, juga ikut memberikan pandangan.

Menurutnya, sistem kerja IGRS memang cukup manual. Developer biasanya diminta mengisi form yang mencakup:

  • Video footage gameplay
  • Screenshot konten
  • Detail unsur kekerasan, bahasa, dan lainnya

Materi ini sering dibagikan melalui link, yang dalam beberapa kasus bisa saja terbuka jika tidak dikelola dengan baik.

Nic juga menilai bahwa kasus seperti ini bukan hal baru. Beberapa badan rating di negara lain, seperti Korea, juga pernah mengalami kebocoran serupa.

Sebagai saran, ia menyebut developer sebaiknya hanya membagikan materi yang benar-benar diperlukan untuk proses rating.

Jadi Pelajaran Besar untuk Sistem Rating

Kasus ini jadi pengingat penting bahwa di balik proses administratif seperti rating game, ada data sensitif yang harus dijaga dengan serius.

IGRS sendiri kemungkinan menghadapi tantangan dari sisi resource dan sistem, namun di sisi lain, kepercayaan developer juga jadi hal yang tidak bisa dikompromikan.

Harapan ke Depan

Meski masalah sudah ditangani dengan cepat, dampaknya tetap terasa, terutama soal kepercayaan.

Ke depannya, banyak pihak berharap:

  • Sistem IGRS bisa lebih aman dan modern
  • Proses submission tidak lagi bergantung pada metode manual berisiko
  • Ada transparansi lebih dalam menangani isu seperti ini

Karena pada akhirnya, keamanan data bukan hanya soal teknis, tapi juga soal menjaga kepercayaan industri secara keseluruhan.

Leave a Comment

Optimized by Optimole