Menjelang perilisannya pada Oktober 2026, Gears of War: E-Day menjadi sorotan setelah muncul laporan yang menyebut biaya pengembangannya mencapai sekitar 400 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp6,5 triliun.
Jika angka tersebut benar, maka Gears of War: E-Day akan menjadi salah satu game termahal yang pernah diproduksi Xbox.
Biaya Pengembangan Disebut Tembus 400 Juta Dolar
Informasi ini pertama kali diungkap oleh jurnalis industri game Tom Henderson dalam podcast Insider Gaming.
Menurut Henderson, sejumlah sumber menyebut anggaran pengembangan Gears of War: E-Day berada di kisaran 400 juta dolar AS.
“Budget Gears of War benar-benar gila. Saya mendengar angkanya bisa mencapai lebih dari 400 juta dolar,” ujar Henderson.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari Microsoft maupun developer The Coalition, angka tersebut langsung memicu diskusi mengenai potensi keuntungan game tersebut setelah dirilis.
Tetap Eksklusif Xbox dan Game Pass
Laporan tersebut muncul bersamaan dengan rumor bahwa Xbox sempat mempertimbangkan untuk merilis Gears of War: E-Day secara multiplatform, termasuk PlayStation 5.
Namun pada tahap akhir, manajemen Xbox disebut memutuskan untuk mempertahankan status eksklusif game tersebut di ekosistem Xbox dan Game Pass.
Keputusan ini dinilai cukup berisiko mengingat biaya pengembangannya yang sangat besar.
Pasalnya, membatasi platform berarti potensi pasar yang dapat dijangkau juga menjadi lebih kecil dibanding jika game dirilis di berbagai konsol sekaligus.
Muncul Pertanyaan Soal Potensi Keuntungan
Dalam diskusi yang sama, Henderson mempertanyakan apakah Gears of War: E-Day mampu menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan biaya produksinya.
Ia bahkan berpendapat bahwa game tersebut kemungkinan tetap akan kesulitan menghasilkan laba besar meskipun dirilis di PlayStation.
“Siapa yang membeli Xbox atau berlangganan Game Pass hanya untuk memainkan Gears?” ujarnya.
Menurutnya, keputusan mempertahankan eksklusivitas lebih terlihat sebagai upaya menyenangkan basis penggemar setia Xbox dibanding langkah bisnis yang paling menguntungkan.
Xbox Disebut Sedang Hadapi Tekanan Finansial
Perdebatan ini semakin menarik setelah muncul laporan mengenai memo internal Xbox yang sebelumnya dibahas oleh jurnalis Bloomberg, Jason Schreier.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa selama lima tahun terakhir Xbox telah menghabiskan lebih dari 20 miliar dolar AS untuk berbagai kebutuhan, termasuk:
- Akuisisi dan pengembangan konten game
- Pengembangan platform
- Subsidi perangkat keras Xbox
Di sisi lain, pendapatan tahunan perusahaan dilaporkan mengalami penurunan hampir setengah miliar dolar AS dalam periode yang sama.
Harga Komponen Konsol Juga Terus Naik
Memo internal tersebut juga menyoroti kenaikan biaya produksi perangkat keras.
Harga komponen penyimpanan untuk konsol Xbox disebut saat ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Bahkan, biaya tersebut diperkirakan bisa meningkat hingga lima kali lipat menjelang musim liburan 2027 akibat tingginya permintaan komponen yang dipicu perkembangan industri AI.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap bisnis perangkat keras Xbox semakin besar dalam beberapa tahun ke depan.
Gears of War: E-Day Jadi Harapan Besar Xbox
Terlepas dari berbagai pertanyaan soal biaya dan profitabilitas, Gears of War: E-Day tetap menjadi salah satu proyek terbesar Xbox saat ini.
Game tersebut akan membawa pemain kembali ke peristiwa Emergence Day, momen awal invasi Locust yang menjadi titik penting dalam sejarah dunia Gears of War.
Dalam Xbox Games Showcase terbaru, Microsoft juga memperlihatkan sejumlah fitur baru, termasuk mekanisme traversal yang lebih modern serta peningkatan visual yang signifikan.
Gears of War: E-Day dijadwalkan meluncur pada 6 Oktober 2026 dan akan tersedia untuk Xbox Series X|S serta PC melalui Game Pass.
Investasi Besar dengan Risiko Besar
Jika angka 400 juta dolar AS benar adanya, maka Gears of War: E-Day akan menjadi ujian besar bagi strategi eksklusivitas Xbox di era modern.
Di satu sisi, game ini berpotensi menjadi salah satu rilisan terbesar Xbox dalam satu dekade terakhir. Namun di sisi lain, biaya pengembangan yang sangat tinggi membuat banyak pihak mempertanyakan apakah eksklusivitas masih menjadi strategi yang efektif untuk mengembalikan investasi sebesar itu di tengah persaingan industri game yang semakin ketat.

